
Jakarta, beliefsecret Indonesia
—
Capsule wardrobe
mendorong kita untuk menguras isi lemari dan belanja lebih sedikit, dengan tujuan pakaian lebih sering dipakai dan memperpanjang masa pakainya.
Namun pertanyaan pentingnya, apakah konsep ini benar-benar sejalan dengan gerakan
keberlanjutan
?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada kemungkinan
capsule wardrobe
hanya jadi ‘euforia sesaat’. Ketika konsep ini digaungkan di momen-momen tertentu, misalnya kampanye gaya hidup minimalis atau gelombang tren di media sosial, sebagian orang mungkin ikut mencoba.
Kemudian, ketika industri fesyen kembali menawarkan sesuatu yang baru, pola belanja pakaian yang lama bisa kembali. Ketika pola lama kembali, yang terjadi bukan pengurangan konsumsi, melainkan
overconsumption
berulang dalam kemasan berbeda.
Jadi, bisakah
capsule wardrobe
berjalan beriringan dengan keberlanjutan?
Penerapannya masih belum sejalan dengan semangat keberlanjutan
Capsule wardrobe
bisa diposisikan sebagai salah satu jawaban atas masalah yang ditimbulkan
fast fashion
, yakni limbah dari pakaian murah dengan siklus produksi yang singkat.
Intinya, konsep ini mengajak kita memilih pakaian yang berkualitas dan tahan lama, lalu mengombinasikannya secara kreatif agar variasi tetap terasa, sambil menekan pemborosan.
Namun di dunia nyata, adopsi konsumen terhadap
capsule wardrobe
tidak selalu konsisten. Ada kesenjangan antara sikap ingin menerapkan sustainability dan perilaku nyata.
Sebuah penelitian di
Journal of Sustainability Research
(2025) menggambarkan bagaimana motivasi konsumen dalam mengadopsi
capsule wardrobe
. Studi yang dilakukan José Magano ini melibatkan 776 konsumen di Portugal.
Hasil penelitian menunjukkan, niat konsumen dalam melakukan tanggung jawab sosial terlihat kuat melalui sikap. Namun, ketertarikan pada fesyen dan gaya belanja hedonis justru memberikan pengaruh sebaliknya.
Selain itu, analisis berdasarkan gender dan generasi memperlihatkan perbedaan. Perempuan cenderung memiliki tingkat keterlibatan
sustainability
yang lebih tinggi, tetapi kebiasaan belanjanya juga tinggi.
Adapun Generasi Z menunjukkan kesenjangan antara niat dan aksi. Ide dan rencana tentang gaya hidup
sustainable
mereka belum berubah menjadi tindakan nyata. Meski mereka tampak lebih condong pada keberlanjutan dan terlibat dengan fesyen, mereka tidak benar-benar berniat mencoba
capsule wardrobe
.
Salah satu penyebab yang disebut dalam studi tersebut, yakni karena mereka sudah terbiasa mengonsumsi pakaian
fast fashion
dan lebih banyak membeli pakaian berharga lebih murah.
Kebiasaan belanja impulsif ini memang bertentangan dengan prinsip
capsule wardrobe
yang menekankan penggunaan jangka panjang dan pilihan terbatas.
Oleh karena itu, mengajak konsumen berpindah ke perencanaan lemari baju yang minimalis butuh perubahan pola pikir. Tantangannya, resistansi makin tinggi di era budaya fesyen kekinian yang menganggap variasi dan ‘hal baru’ sebagai simbol status serta ekspresi diri.
Selain itu, narasi tentang membangun
capsule wardrobe
di banyak tempat, cenderung mendorong membeli pakaian berkualitas, tahan lama, dan diproduksi secara etis. Artinya, butuh biaya awal yang lebih tinggi.
Bagi konsumen yang terbiasa membeli banyak pakaian murah, pengeluaran awal ini terasa tidak realistis.
Pengkampanye Urban Berkeadilan dari Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu Eka Setyawan, juga memiliki pendapat tentang tantangan terkait biaya ini.
“Kalau kita bicara soal tantangan di konteks opsi, misal
slow fashion
, secara etis tentu ini cukup bias kelas. Orang-orang dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah, tentu sangat sulit untuk
reach out
produk-produk yang sifatnya
slow fashion
,” tutur Wahyu kepada
beliefsecretIndonesia.com
pada Selasa (19/5).
Menurutnya, berbagai produk
slow fashion
cenderung mahal. Misalnya pakaian yang berbahan ramah lingkungan, cenderung dijual dengan harga lebih mahal, apalagi produk eksklusif dengan label premium.
“Fenomena-fenomena ini kalau kita cek dalam konteks sosiologis, ini
kan
membuat perilaku ramah lingkungan hanya untuk kelas-kelas tertentu,” Wahyu menjelaskan.
Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah atau ‘kaum mendang-mending’ dengan gaji UMR atau di bawah Rp10 juta, tentu akan sulit mengikuti gaya hidup yang menekankan keberlanjutan.
Baca halaman selanjutnya…
Namun Founder Lyfe With Less dan Komunitas Bersaling-silang, Cynthia S. Lestari, memiliki caranya sendiri untuk menyiasati biaya mahal menerapkan
slow fashion
. Ia sendiri berpendapat menerapkan gaya hidup ini tak harus selalu mahal.
”
The most sustainable fashion
adalah apa yang kita punya sebenarnya di lemari kita. Meskipun itu misalnya di lemari kita
brand
-nya
fast fashion
, ya, tapi diperlakukan
slow
, itu sudah sangat baik,” tutur Cynthia kepada
beliefsecretIndonesia.com
secara terpisah.
Menurutnya, akan sangat kontradiktif jika kita membeli berbagai produk berlabel
slow fashion
tetapi memperlakukannya seperti
fast fashion
alias cepat buang dan cepat beli lagi.
Konsumen harus lebih kritis, gerakan harus lebih masif
Perlu disadari, berbagai gerakan mendukung keberlanjutan di tingkat individu, seperti memperlambat konsumsi melalui
slow fashion
, bertukar pakaian bekas, hingga menerapkan
capsule wardrobe
, cenderung tak signifikan dalam mengurangi limbah.
“Itu hampir sama kayak plastik. Menurut orang, [kita harus] kurangi konsumsi plastik, tapi produsennya masih banyak banget, malah makin banyak,” kata Wahyu.
Menurutnya, kesadaran akan keberlanjutan semestinya tak hanya muncul di kalangan konsumen, tetapi juga di kalangan produsen.
Namun, melihat sisi terangnya, berbagai gerakan ini efektif untuk membongkar budaya konsumtif yang hiperaktif. Berbagai kampanye gerakan ini bisa membuat konsumen lebih teredukasi dan mengurangi budaya throw away alias sekali pakai langsung buang.
Jika ingin berbagai gerakan mendukung keberlanjutan memiliki signifikansi dalam mengurangi limbah, kuncinya konsumen harus lebih kritis.
”
Nah
, tapi ini juga harus dibarengi dengan apa? Dengan memaksa korporasi untuk merespons tuntutan mereka dan mereka [korporasi] pun harus berubah,” ujar Wahyu.
Misalnya, produsen yang sebelumnya memproduksi barang dengan umur pakai dua tahun, bisa menghasilkan barang dengan umur pakai lima tahun karena tuntutan konsumen.
Selain konsumen harus lebih kritis, Cynthia menambahkan perspektif berbeda. Menurutnya, gerakan-gerakan yang mendukung keberlanjutan ini harus lebih masif. Apalagi dalam melawan stigma tentang barang bekas dan barang yang umurnya sudah lama.
“Karena kita ada di dunia digital
nih
, yang serba
medsos
dan lain-lain, menurutku biar kita bisa menjangkau lebih banyak orang, harus lebih banyak yang menggaungkan ini,
sih
,” ujar Cynthia.
[Gambas:Photo beliefsecret]
Menurutnya, perlu lebih banyak orang yang melakukan berbagai gerakan tersebut dan terlihat di media sosial, sehingga bisa memberikan pengaruh positif ke audiensnya. Ia mencontohkan selebritas Cinta Laura yang menunjukkan gaya berpakaian ‘itu-itu saja’ saat melakukan kegiatan sebagai pembawa acara.
“Itu mungkin salah satu cara untuk menormalisasi hal ini, bahwa
public figure aja
itu merasa enggak apa-apa,
it’s fine to wear it
. Jadi
outfit repeater
tuh sebenarnya
fine-fine aja
gitu,” kata Cynthia.
“Jadi menurut aku, caranya ya harus lebih masif lagi
nih
, konten-konten, berita-berita, atau orang-orang yang ngomongin soal ini. Biar anak-anak gen Z, millenial, merasa hal ini adalah hal yang normal
aja
,” kata Cynthia lagi.
Jadi, bila kita merefleksikan apakah bisa
capsule wardrobe
berjalan beriringan dengan keberlanjutan? Jawabannya bisa, tetapi tidak otomatis.
Capsule wardrobe
hanya akan benar-benar mendukung gaya hidup keberlanjutan ketika ia menjadi kebiasaan yang mengakar:
mindful
dalam membeli, realistis terhadap kebutuhan individu, dan konsisten dalam memperpanjang umur pakai.
Dengan kata lain,
capsule wardrobe
adalah alat. Apakah ia menjadi langkah kecil yang berdampak, atau hanya tren yang lewat, ditentukan oleh kita yang menerapkannya.
Add
as a preferred
source on Google
Konsumen harus lebih kritis, gerakan harus lebih masif
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Colony hingga Nobody Loves Kay
Baca lagi: Sindikat Online Scams Internasional Ditangkap, Jutaan Akun Diblokir
Baca lagi: 1 Dekade Tren Material Daur Ulang di Produksi Mobil Global




9 Responses
Main lebih puas di situs slot gacor https://texasblessedplumbing.com yang terkenal memiliki RTP tinggi, jackpot progresif, dan layanan customer service online selama 24 jam penuh
Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru dari artikel ini. Pembahasannya sangat informatif dan mudah diikuti https://linkrankboost.shop/tu17hzg-why-subscription-sites-need-strong-dofollow-backlink-profile-2025-data/ .
Artikel https://www.joeant.com/devsite/DIR/cat/23500/Silicon_Valley_Hotels berhasil menjelaskan topik dengan cara yang sederhana namun tetap mendalam. Terima kasih atas informasi yang sangat bermanfaat.
Setuju banget sama poin-poin di artikel ini, saya jadi makin ngerti sekarang. Oh iya, buat temen-temen yang butuh bacaan sejenis, https://gynvael.coldwind.pl/?id=283 juga bahas hal yang sama lho.
Makasih udah di-share ilmunya, ini bermanfaat banget buat pemula. Sekadar berbagi aja, situs https://www.huffpost.com/entry/how-we-learned-transformative-justice_b_58b2f41ce4b0780bac2a2f84 juga mengupas masalah ini dari angle yang cukup lengkap.
Tulisan berkualitas tinggi yang ditulis oleh orang yang ahli di bidangnya https://www.kufirst.center.ku.ac.th/%E0%B8%9B%E0%B8%A3%E0%B8%B0%E0%B8%81%E0%B8%B2%E0%B8%A8%E0%B8%9B%E0%B8%B4%E0%B8%94%E0%B8%AA%E0%B8%B3%E0%B8%99%E0%B8%B1%E0%B8%81%E0%B8%87%E0%B8%B2%E0%B8%99_08042021/ semoga bermanfaat bagi banyak orang
Artikel yang sangat membantu untuk memahami topik ini lebih dalam. https://revistas.intec.edu.do/index.php/ciso/article/download/722/1931?inline=1
Membaca ini membuat saya merasa beruntung bisa mengakses internet hari ini http://www.kufirst.center.ku.ac.th/9345-2/ keduanya memiliki isi yang bagus
Artikel yang memberikan dampak instan pada cara berpikir saya saat ini juga http://www.kufirst.center.ku.ac.th/8725-2/ sangat menyenangkan