Ortu China Rela Bayar Rp34 Juta demi Anak Jadi ‘Warren Buffett’ Cilik

Jakarta, beliefsecret Indonesia

Sosok pengusaha sekaligus filantropis

Warren Buffett

tampaknya digilai di

China

.

Orang tua

di sana berbondong-bondong mengirim anaknya mengikuti berbagai kamp dengan biaya selangit demi menghadirkan sosok ‘Warren Buffett’ cilik.

Selama dua tahun terakhir, kelas pelatihan kecerdasan finansial (FQ) baru yang bertujuan untuk menghadirkan ‘Warren Buffett’ cilik kian populer di kalangan orang tua yang khawatir akan masa depan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kemiskinan bukanlah status, melainkan pola pikir.”

“Kamu adalah beban bagi orang tuamu saat masih muda, tapi kamu akan menjadi aset mereka saat dewasa.”

Slogan-slogan di atas sering terdengar di banyak kamp pelatihan FQ.

Melansir

South China Morning Post

, kelas-kelas tersebut biasanya berlangsung selama 7-10 hari. Biaya paling murah dibanderol seharga US$1.900 atau sekitar Rp34 juta per anak.

Dalam kelas itu, anak memperoleh ilmu mengenai literasi keuangan dasar, belajar kewirausahaan, hingga mengelola harta. Saking populernya, banyak orang tua yang harus memesan tempat dari beberapa bulan sebelum kelas dimulai.

Salah satunya adalah Daxiang Teenage FQ Summer Camp. Di sana, para instruktur mensimulasikan pasar saham, pertemuan investor, dan skenario perdagangan. Para peserta dibimbing untuk mengevaluasi keuntungan dan kerugian di setiap penghujung hari.

Kamp lainnya, FQ Little General, menggelar kegiatan di mana peserta mengidentifikasi peluang bisnis potensial, menjual barang-barang kecil di kios jalanan, membuat rencana bisnis, dan menyiapkan laporan keuangan.

Selain sesi pelatihan FQ dasar ini, beberapa kamp menawarkan program lanjutan dengan harga yang lebih tinggi. Program ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan atau kewirausahaan di bidang STEM.

Seorang ibu di provinsi Zheijang, May mengatakan bahwa putrinya, yang merupakan siswa sekolah dasar, menjadi lebih termotivasi setelah mengikuti camp FQ.

“Dia [putrinya] telah berubah secara signifikan. Dulu, dia malas belajar. Sekarang dia memiliki tujuan yang jelas: menghasilkan uang. Saya perhatikan dia jauh lebih fokus pada tugas-tugasnya,” ujar May.

Kendati demikian, tak sedikit juga orang tua yang justru khawatir kelak sang anak terlalu berorientasi pada uang. Beberapa anak yang telah mengikuti camp dilaporkan mulai mencari imbalan finansial dari orang tua atas prestasi akademik atau bantuan pekerjaan rumah tangga yang mereka selesaikan.

Seorang ibu dari Henan, misalnya, yang mengaku tak akan mengirim putranya ke kamp FQ. Ia menilai, kamp tersebut gagal mengajarkan anak bahwa kesuksesan tidak diraih salam semalam.

“Data di seluruh dunia menunjukkan bahwa 90 persen perusahaan rintisan gagal. Namun, di kelas FQ ini, anak-anak dengan mudah belajar menghasilkan uang. Ini adalah acara bisnis, bukan cerminan dari dunia usaha nyata,” ujar dia.

(asr)

Baca lagi: FOTO: Ritual Warga Bolivia Bakar Janin Llama untuk Mother Earth

Baca lagi: Hasil F1 GP Monaco: Kimi Antonelli Menang, Verstappen Gagal Finis

Baca lagi: Spesifikasi Pesawat Jumbo Airbus A380 yang Jemput AC Milan dari RI

4 Responses

  1. Artikel yang sangat layak dibaca bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan. Informasinya disampaikan secara jelas dan tidak berbelit-belit. Terima kasih atas konten yang informatif ini. Jangan lupa mengunjungi RAJAEROPA.

  2. Tulisan yang sangat informatif dan memberikan wawasan baru bagi pembaca. Setiap pembahasannya disampaikan dengan jelas sehingga mudah dipahami dari awal hingga akhir. Terima kasih telah menghadirkan konten yang bermanfaat. Jangan lupa mengunjungi https://www.noriexton.com/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: