
Jakarta, beliefsecret Indonesia
—
Bahkan sebelum Tod’s membuka pintu Villa Necchi Campiglio untuk mempresentasikan koleksi
menswear
teranyarnya, pertunjukan sesungguhnya telah dimulai di jalanan.
Di bawah terik panas Milan yang menyengat, para penggemar Han Ji-sung dari Stray Kids berkerumun di balik pagar pembatas, berharap bisa menangkap sekelebat sosok idolanya. Teriakan mereka memecah keheningan. Untuk sesaat, Tod’s, jenama yang selama ini dikenal dengan kemewahan yang kalem, harus berbagi panggung dengan histeria pop global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam villa, atmosfernya jauh lebih tenang. Han muncul mengenakan jaket kulit lembut, mengamati koleksi ini di antara ruangan-ruangan villa bersama Diego Della Valle,
chairman
Tod’s yang selama puluhan tahun mengubah perusahaan barang kulit regional menjadi salah satu nama paling dikenal dalam barang mewah Italia.
Di bawah kepemimpinannya, Tod’s tak pernah benar-benar hanya menjual sepatu, tas, atau jaket. Yang ia tawarkan adalah sebuah proposisi tentang Italia, yakni sebuah keanggunan tanpa pamer, kemewahan tanpa terlihat vulgar, dan keyakinan bahwa kualitas material dan kerja tangan dapat berbicara lebih lantang daripada sekedar logo.
Kehadiran Han di sisi Della Valle tampak seperti upaya menguji kode-kode lama Tod’s di hadapan audiens global yang jauh lebih muda, lebih pop, dan lebih digital.
Villa Necchi Campiglio sendiri adalah salah satu vila di Milan yang keindahannya terasa hampir disipliner, dengan garis-garis rasionalis, ketenangan aristokratik dengan banyaknya karya seni di dalamnya. Tempat itu menjadi panggung yang tepat untuk koleksi bertajuk ‘The Italian Wardrobe’.
Disini, Tod’s tidak sedang berusaha menciptakan arketipe pria baru. Yang dilakukan Matteo Tamburini,
creative director
rumah mode ini, adalah memoles ulang arketipe lama, yakni pria Italia yang lebih menghargai kelembutan daripada
swagger
, kualitas material daripada agresi visual, dan keanggunan yang tampak seolah muncul secara alami.
Pusat dari koleksi ini adalah proyek Pashmy, eksperimen terbaru Tod’s dalam mengubah kulit menjadi objek taktil. Jenama ini menyebutnya sebagai ekspresi tertinggi dari keahlian mereka dalam riset dan seleksi material.
Kulit Pashmy memiliki ketebalan hanya 0,3 milimeter, begitu tipis hingga hampir menantang persepsi tentang bahan kulit yang sering terlihat dan terasa ‘berat’.
Perbandingan yang digunakan Tod’s adalah pashmina. Sekalipun analogi semacam ini sering terdengar klise, hasilnya adalah sebuah material yang dirancang untuk bergerak seperti selembar kain.
Brera
bomber
, dalam palet warna netral hangat, menjadi salah satu potongan paling meyakinkan. Siluetnya familier, dibuat dengan kulit yang luar biasa ringan. Castello jacket, blazer lembut dengan patch pockets yang jauh dari kakunya pakaian pria formal.
Lalu, ada Solferino shirt, menerjemahkan ide Pashmy itu sendiri, yang nyaris tampak seperti eksperimen dalam menghapus batas antara kemeja dan kulit kedua.
Tidak ada siluet atau warna yang mengejutkan. Daya tariknya justru terletak pada cara Tod’s membuat sesuatu yang familiar terlihat mewah.
Keteguhan pada elevasi yang tenang inilah yang terus menjadi proposisi utama Tod’s, dan Della Valle selalu merumuskannya secara singkat.
“Kualitas.
Craftsmanship
“, ujarnya di tengah-tengah presentasi yang diikuti
beliefsecretIndonesia.com
.
Di industri barang mewah yang tergila-gila pada storytelling, jawaban itu terdengar hampir anti-klimaks. Namun, justru di situlah kekuatannya.
Tod’s, pada dasarnya, tidak pernah lebih rumit dari itu. Sebelum grup ini
delisting
dari bursa saham Milan pada 2024, Della Valle juga menegaskan kepercayaan dirinya pada posisi brand tersebut dengan nada serupa.
“Semua jenama [di bawah naungan Tod’s Group] mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit, pada kurs tetap. Kami sangat puas telah mencapai tujuan yang telah kami tetapkan di awal tahun, meskipun dalam konteks makroekonomi yang sulit di tingkat internasional. Hasil yang sangat baik untuk jenama Tod’s, yang semakin dihargai karena gayanya yang halus dan modern, sebuah ekspresi dari keahlian luar biasa dari Made in Italy; produk-produk ikoniknya semakin dicintai oleh semakin banyak pelanggan dari semua kelompok usia secara internasional,” ujar Della Valle kala itu.
Koleksi ini jelas dirancang untuk menampilkan bahwa Tod’s tidak perlu menjadi lebih bising, lebih
trend-driven
, atau lebih ‘
fashion
‘ dalam pengertian konvensional untuk tetap relevan. Yang perlu dilakukan, Tod’s justru semakin menjadi dirinya sendiri.
Untuk itu, rumah mode ini melakukan satu langkah yang cerdas selama presentasi. Alih-alih sekadar berbicara tentang craftsmanship, mereka menampilkannya secara langsung.
Para perajin dari
atelier
Tod’s di Marche, wilayah yang selama ini menjadi tulang punggung industri kulit, dibawa ke Villa Necchi untuk memperagakan keahlian mereka di hadapan para tamu. Para undangan dapat melihat kulit dipilih, dipotong, dan dirakit oleh tangan-tangan yang selama ini hanya hadir sebagai abstraksi dalam bahasa pemasaran luxury.
Palet warna koleksi ini bergerak dalam logika yang sama. Rona beige, cocoa, ochre, sesekali diselingi Riviera blue dan pearl grey dipilih bukan untuk mengguncang atau mencuri perhatian, melainkan untuk menenangkan, dan membiarkan material berbicara.
Aksesori yang ditampilkan pun mengulang argumen yang sama. Red Dot sneaker, yang diposisikan sebagai ikon baru, berusaha menerjemahkan nilai lama Tod’s ke dalam produk urban kontemporer: kemewahan sebagai kelembutan, keringanan, dan fungsionalitas.
Sementara Gommino kembali hadir sebagai pengingat bahwa keberhasilan terbesar jenama ini terletak pada kemampuannya membuat kesan kasual yang terasa aristokratik.
Ultra-light loafer
yang nyaris ambruk saking lembutnya hanya menegaskan hal itu sekali lagi.
Apa yang dipresentasikan Tod’s di Villa Necchi bukanlah menswear yang radikal, namun sesuatu yang lebih sulit: sebuah bahasa yang koheren terhadap
restraint
di industri yang sering kali mengejar kebisingan.
Di luar, para penggemar berteriak histeris untuk idol K-pop. Sementara di dalam, Tod’s menampilkan kemewahan yang tetap bermula dari tangan, dari kulit, dari kesabaran untuk menyempurnakan sesuatu yang nyaris tak terlihat.
Di sini, bisikan masih bisa terdengar. Dan untuk satu siang yang terik di Milan, bisikan itu justru lebih terdengar lantang.
(asr/asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Devin/Faathir Janji Evaluasi usai Jadi Runner-up Macau Open 2026
Baca lagi: Ruben Datangi KPAI, Ngadu Anak-anaknya di Sarwendah Live hingga Malam
Baca lagi: Kopi Sebenarnya Tak Boleh Diminum Setelah Bangun Tidur, Kenapa?




14 Responses
Pembahasan yang jelas membuat artikel ini mudah dipahami oleh siapa saja.http://www.redlightcenter.com/net/profile/view_profile.aspx?MemberID=90889711
Artikel ini menyajikan pembahasan yang mendalam namun tetap mudah dimengerti.http://mysql.telepac.pt/LDP/pub/Linux/docs/ldp-archived/linuxfocus/English/January2001/article180.shtml
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke https://eridan.websrvcs.com/system/media/Play.asp?id=30216&key=97E3F93C-B2F9-4472-8D07-14BEBF3ACCA4 juga.
Setuju banget sama poin-poin di artikel ini, saya jadi makin ngerti sekarang. Oh iya, buat temen-temen yang butuh bacaan sejenis, https://gynvael.coldwind.pl/?id=283 juga bahas hal yang sama lho.
Terima kasih atas penjelasannya, ulasan ini sangat membantu mencerahkan. Sebagai tambahan referensi, saya juga sempat membaca artikel senada yang lumayan mendalam di https://www.cve.org/CVERecord?id=CVE-2008-5049 tadi.
Artikel yang sangat membantu untuk memahami topik ini lebih dalam. https://revistas.intec.edu.do/index.php/ciso/article/download/722/1931?inline=1
Salut untuk dedikasi penulis yang berhasil meramu informasi serumit ini menjadi begitu indah https://www.kufirst.center.ku.ac.th/category/activities/page/15/ saya sangat suka pokonya setelah membaca ini
Kesimpulan yang sempurna untuk artikel yang luar biasa. Hormat dan sukses selalu untuk penulisnya http://www.kufirst.center.ku.ac.th/%E0%B8%82%E0%B8%A2%E0%B8%B2%E0%B8%A2%E0%B9%80%E0%B8%A7%E0%B8%A5%E0%B8%B2%E0%B8%9B%E0%B8%A3%E0%B8%B0%E0%B8%81%E0%B8%B2%E0%B8%A8%E0%B8%9B%E0%B8%B4%E0%B8%942/ good job ya
Pembahasannya jelas dan tidak membingungkan pembaca. Saya juga membaca ulasan serupa di https://tawk.to/1cfcaa9ff4e60b36ca30223b6cddae5ed21ecca4?_gl=1.
Gaya penyampaiannya sangat kekinian tanpa mengurangi bobot validitas datanya http://www.kufirst.center.ku.ac.th/food-safety-management-course-2023-pic/
Saya rela meluangkan waktu demi memberikan bintang 5 untuk mahakarya tulisan sekeren ini https://www.kufirst.center.ku.ac.th/food-contamination-vs-food-adulteration/
Baca artikel ini berasa dapet kuliah gratis 3 SKS, tapi versi seru dan gak bikin ngantuk. Banyak banget ilmu baru yang saya serap. https://www.kufirst.center.ku.ac.th/category/activities/page/18/
Satu artikel tapi isinya merangkum banyak teori penting dengan sangat rapi. Banyak ilmu berharga di sini. Matur nuwun http://www.kufirst.center.ku.ac.th/9762-4/
Mantap ulasannya, langsung pada intinya dan nggak bertele-tele! Kebetulan kemaren saya sempet mampir ke http://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=1638, di sana juga ada pembahasan yang sangat relevan sama topik ini.